No Miracle When You Win, No Disaster When You Lose
Sekali lagi, ini bukan curhat mereka, apalagi curhat saya. Ini kisah. Untuk mereka yang baru bekerja, untuk mereka yang berusaha.
Karyawan di Indonesia
Kita semua tahu, nasib karyawan di Indonesia -khususnya di kota saya- tidak rata. Beberapa karyawan bernasib baik, beberapa lagi tak perlu saya sebutkan. Beberapa bergaji lebih dari 5 juta, beberapa lagi hanya ratusan ribu saja.
Yang lebih menyakitkan hati, beberapa karyawan bergaji buta. Tak bekerja, bergaji juta. Hanya duduk dan sesekali melapor, mereka dapat lembaran uang kotor. Belum lagi para koruptor negara, mereka berjanji pada bangsa, dilantik dengan uang rakyat, bersenda gurau di kantor, tidur di rapat urusan rakyat.
Berbeda dengan para pejuang kemerdekaan yang jarang tidur karena membela negara. Para pejabat kotor ini telalu banyak tidur di fasilitas negara. Entahalah, entah kotoran apa yang masuk ke dalam otak meraka, sehingga pikiran mereka lebih kotor dari pada sesuatu yang dibuang manusia.
Karyawan Indonesia. Sejati. Merekalah yang bekerja sepenuh hati. Tak pernah berhenti mengejar cita-cita. Untuk keluarga, untuk pasangan hidup, untuk diri sendiri.
Karyawan Indonesia. Jadilah karyawan sejati. Berjuang dengan jalan sendiri. Mereka mengobarkan semangat. Mengkritik pejabat. Memberikan bukti asli. Membela sepenuh hati untuk negri.
Karyawan Indonesia. Beberapa berjuang dengan darah. Penuh luka dan rintih kesakitan. Tak apa! Nikmati saja! Bahwa hidup ini adalah perjuangan. Bukan sekedar urusan makan. Jika pun nyawa meregang, itu nasib yang Tuhan berikan. Kita pun akan hilang. Semua.
Karyawan Indonesia. Bangkit. Buktikan!
Agak telat memang, saat blogger lain sudah mengupload foto detik-detik terakhir tahun 2011 dan membuat doa dan harapan di tahun 2012 lewat tulisan, aku baru sempat membuat artikel ini yang sangat basi. Telat dan gak up to date.
Emang gue pikirin!! *sok berlogat lo gue ala anak ibukota
Maklum saja, orang sibuk memang waktu luangnya gak tentu. Apalagi karyawan swasta seperti saya ini. Akhir pekan di akhir tahun pun aku lewati tanpa main kemana-mana. Atau melihat perayaan di pusat kota, entah itu meniup terompet atau melihat kembang api. Pergantian tahun aku jalani seperti tahun yang lalu, biasa saja. Hampa. Hanya tidur pulas dan badan letih setelah bekerja.
Tepat tujuh jam sebelum pergantian tahun, seragam kerja sudah aku kenakan kembali. Bukan lembur ditahun baru. Ini seragam kerja sebagai panitia lomba. Lomba Karaoke Waniita di tempatku bekerja. Seperti kebanyakan orang yang bekerja di sebuah acara lomba, sebagai seksi dokumentasi tugasku jelas take gambar-gambar cewe nyanyi
Yah, setidaknya malam tahun baru ada acara rame-rame dikit lah. Walaupun ini kerja. Eh, tapi keren kan? *sok cool* Bagaimana tidak, bekerja sambil menikmati suasana lomba dan pergantian tahun secara bersama-sama, perfect banget kan?
Lebih perfect lagi hal yang satu ini. Mau tahu?? Apa lagi kalau bukan… Bekerja sambil ditungguin sang kekasih pujaan hati… waaa…. seneng banget kaaaaaaaaan…!! PERFECT BANGET GAK SIIIIIHHHH!!!!!!
Ambil gambar, JEPREET!! Trus balik ke deretan belakang sambil ngobrol bareng pacar yang embem cute abiiiisss…
Bener, gak ada tahun baru se romantis ini bareng pacar ditahun-tahun sebelumnya. Yah… karena itulah, pergantian tahun 2011 ke 2012 terasa indah banget buat aku. Jika ditahun-tahun sebelumnya hanya sms-an. Sms-an. Sms-an. Sms-an (lagi dan teruuuussss).
Dibarisan belakang, makan roti sekotak berdua, sebotol berdua. Dia duduk dikursi plastik, aku jongkok didepannya. Ngobrol sebentar, ambil gambar, ngobrol lagi, ambil gambar lagi, ngobrol bentar lagi… begitu seterusnya sampai kelar tuh acara lomba karaoke wanita *dari anak-anak sampai emak-emak.
Kelar acara kita berdua berbonceng mesra melaju ke arah kota *Purwokerto tercinta. Ooooh… ramai macet dan tampak bising… gak lama, kita hanya mampir bentar di depan hotel bintang empat yang baru buka. Setelah itu kita ngobrol diatas motor sambil jalan pelan-pelan kerumah my honey. Maklum, sudah janji mau pulang jam 10 malam. Ini malah udah hampir telat satu jam.
Sepanjang jalan, dipeluknya aku dari belakang… oooooh….. dinginnyaaaah… *gua gak pake jaket sob… tau dong jaket gue kemana
Yah, gak lama gak terasa. Sudah sampai deh didepan rumah. Dia cuma kasih ciuman fiktif lewat bibirnya yang di majuin satu senti… *dasar, bikin gemes aja! Dijalan menjuju gubuk keluarga gue, jalan udah mulai rame. Jaket udah aku pake . Pelan-pelan aja menikmati suasana tahun baru yang bentar lagi dateng.
Nyampai dirumah gak pake lama, langsung cuci ujung kaki dikit, lepas seragam. Bobo deeeeeh…. Capet tau.Mulai kerja jam delapan pagi, pulang jam tiga sore. Jam lima sore udah pake seragam panitia lomba. Kelar nyampe jam 10 malem. Udah gitu dirumah dipaksa main sama ponakan cantik yang pinter dan juga rewel… ampooon dah kalo inget Aila
Yah, setidaknya tahun lalu dan awal tahun ini banyak berkahnya. Akhir tahun punya motor baru, awal tahun bisa punya laptop baru… yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee *kepanjangan gak apa2 yak
Doa ditahun 2011 ternyata terkabul semua. Target lima sasaran pun sudah ditetapkan untuk tahun 2012 ini. Gak sabar nih jadi orang sukses!!
Resign.
Sebuah kata yang memiliki nilai keberanian. Setidaknya itu yang saya mengerti dari beberapa tahun menjadi karyawan.
Saya sendiri beberapa kali memilih resign dari beberapa tempat kerja. Sebab dan alasan resign sendiri sangat banyak. Dan saya selalu membenarkan diri apa sebab dan alasan saya memilih resign dari pekerjaan.
Kalo tidak salah, beberapa resign yang saya putuskan :
1. Tahun 2007. Setelah lulus dari sekolah, saya memutuskan untuk bekerja di sebuah tempat rental dan service komputer. Majikan saya adalah kakak kelas jauh. Mungkin satu angkatan dengan kakak perempuan saya. Saya memutuskan resign saat pamitan dalam rangka libur lebaran. Saya pamitan secara kodeis, saya mengatakan beberapa kalimat pamit secara permanen. Alasan dan sebab saya resign lebih karena keluarga, terutasa Bapak yang ingin anak laki-lakinya merantau di luar kota.
2. Tahun 2008. Tak lama setelah saya resign di tahun 2007, saya beralih profesi sebagai seoran ME, Marketing Eksekutif. Memasarkan salah satu produk TV berbayar. Di sebuah akhir kontrak, yang telah saya tahu secara diam-diam kalau kontrak tidak diperpanjang, saya resign. Saya memilih keluar dari perusahaan dengan cara resign, dari pada dikeluarkan secara halus menggunakan kontrak yang tidak diperpanjang.
3. Tahun 2011. Memiliki sebuah pekerjaan yang cocok dengan dunia saya. Komputer dan internet. Saya memiliki masa kerja dua tahun lebih di sebuah perusahaan yang beroperasional di bidang komputer. Alasan saya resign bukanlah karena kontrak, atau karena kasus. Alasan dan sebab saya resign karena perlakuan tidak adil atas setiap karyawan. Saya membaca sebuah penyelewengan atas Standard Operational Procedure.
4. Tahun 2011. Tak lama menjadi pengangguran, saya langsung beralih profesi menjadi seorang Graphic Designer di sebuah perusahaan skala nasional. Tidak sampai setengah tahun, saya putuskan resign. Alasan ini adalah alasan terekstrem yang saya dapatkan. Gaji karyawan yang sangat tidak wajar. Nilai ilmu desain sama sekali tidak dihargai.
Wah, kok malah jadi curhat?
Artikel ini saya kirim untuk para karyawan yang sudah memiliki niat bulat untuk resign. Bahwa dunia selalu memiliki arah yang baik untuk kita.
Kalau menurut google translate, artinya sudah jelas. Batas waktu. Batas waktu. Batas waktu. Ya, batas waktu. Setiap karyawan pasti memilikinya. Batas waktu masuk kerja, batas waktu pekerjaan, batas waktu proyek kantor, dan tentunya batas waktu pulang kerumah
Yah. Setidaknya itu yang ada disetiap sudut kehidupan seorang karyawan.
Hanya saja. Ada yang berbeda jika kita berada disituasi yang tidak jelas. Tidak jelas bagaimana? Seperti ini contohnya.
Sebagai karyawan, kita tahu kewajiban dan hak kita. Jangan hanya hak saja yang harus kita pikirkan. Tapi pikirkan juga kewajiban kita sebagai karyawan. ( Kok gak nyambung sama paragraf diatas sih?)
Begini, kewajiban seorang karyawan adalah apa yang ada dalam lingkup jabatan dan posisinya. Jika melebihi lingkup kedua hal itu, boleh lah. Asal tak sampai melewati batas kewajaran. Dan setiap pekerjaan yang berada dalam lingkup jabatan dan posisi kita, pasti ada deadline. Batas waktu penyelesaian pekerjaan.
Yeah! Itulah yang akan kita bahas. Batas waktu. Batas waktu. Batas waktu. Jika kita memiliki kewajiban tambahan yang melebihi kapasitas dari job description kita, dan itu memiliki deadline yang mengerikan, bersiaplah.
- Pekerjaan utama keteteran.
- Lelah di badan dan pikiran.
- Reputasi dan masa depan terancam.
Dan untuk semua pekerjaan dengan batas waktu ditambah dengan pekerjaan tambahan dengan batas waktu mengerikan kita sebut saja Overworked.
Salam overworked.
Setelah muter2 beli perlengkapan untuk kantor, kehujanan, kelaparan dan sepatu basah sampai harus ganti kaos kaki dibungkus kresek hitam. Terjadilah malapetaka kemarin, 29/11/11. Dicurigai sebagai pelaku utama dalam masalah salah tangkap persepsi argumentasi di salah satu thread Kaskus Regional Banyumas, thread Banyumas Online Business.
Yah, nasib sial menghampiri saya. Nasib sial, karena postingan saya yang mungkin bahasanya menjerumuskan, memprovokasi, dan membuat seseorang menjadi tersangka, seperti saya. Padahal itu posting kedua saya di thread Banyumas Bisnis Online, postingan pertama saya ada di page 1.
Ohya, saya bikin tulisan ini bukan untuk curhat, ini sekedar curahan hati saja.
Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tanpa aba-aba, tanpa rambu-rambu, tanpa mimpi, tanpa firasat dan tanpa diduga, menjadi seorang tercurigai terduga terdakwa tersangka.
Rasanya memang sangat menyesak.
Beberapa hari yang lalu, mungkin hampir dua bulan sih… Jogjakarta membuat terkagum-kagum dengan kebudayaan dan cantiknya tiap sudut kota. Dari tiket Benteng Vredeburg yang cuma 2000 perak (cantik banget kan!) sampai desain-desain kaos di Malioboro yang beber-bener banyak-banyak dan bagus-bagus banget (ini bukan cantik lagi, ini cuantik!)
Ya, kecantikan Jogja memang ingin kita bawa (kita?) ke kota kita masing-masing, ya kan? Setidaknya itu yang saya rasakan saat pulang ke Purwokerto. Dan salah satu kecantikan yang ingin saya bawa pulang ke Purwokerto adalah kecantikan Tugu Jogja yang mampu menghipnotis banyak alayers dan photographer maupun gabungan keduanya. Kecantikan yang menjadikan Tugu Jogja sebagai backdrop sesi foto tourist lokal di Jogjakarta.
Dan jika bisa saya bawa pulang, kecantikan Tugu Jogja akan saya berikan pada Tugu Purwokerto. Seritus! Saya berikan gratis! Tanpa syarat dan gak abis-abis!
Ya, sangat miris memang, bermimpi membawa sisi cantik Tugu Jogja ke Purwokerto dan memberikan secara gratis untuk Tugu Purwokerto. Bagaimana tidak, memang itulah mimpi yang berat. Melihat perbandingan kecantikan Tugu Jogja dengan Tugu Purwokerto. Tugu Jogja yang diagungkan kecantikannya dan Tugu Purwokerto yang sama sekali tak cantik.
Mungkin nilai history? Nilai desain? Nilai perspektif (?)? Nilai kebanggan? Atau nilai wisata?
Ya, mungkin yang tahu perbandingan nilai cantik Tugu Jogja dengan Tugu Purwokerto bisa menjawab pertanyaan yang saya ajukan diatas. Atau beberapa teman bisa menjawab, jika saya bertanya langsung. Tapi itulah, saya malas bertanya langsung pada mereka. Lebih baik saya bertanya pada pembuatnya? Ah, terlalu berat ongkosnya.
Mungkin lebih baik jika diadakan Lomba Photoshoot Tugu Purwokerto.
gatal di punggung gak bisa digaruk hastagpenyakitgatel
sekarang gatelnya ampe kepala.. dj ancooooook….
belajar desain grafis di DGI http://ping.fm/5fdrL
tiba-tiba gatel menyerang dari kaki sampai leher #wtf
Blog pada WordPress.com. Theme: Nishita by Brajeshwar. Fonts on this blog.